“Membangun sebuah kota itu bukan hanya membangun fisik, tapi juga membangun manusianya. Event budaya seperti ini bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga bikin kita lebih akrab satu sama lain,” ujar dr. Christian.

Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana keakraban antarwarga yang terjalin dalam kegiatan kemasyarakatan dapat menyelesaikan berbagai persoalan sosial secara lebih efektif melalui semangat gotong royong.

“Bikin kita seluruh warga Kelurahan Merdeka jadi akrab. Yang belum kenal jadi kenal, yang sudah kenal lebih akrab lagi. Besok-besok ada masalah, saling baku bantu. Besok-besok ada garam habis, lombok habis, bawang habis, bisa pinjam di sebelah karena kita jadi akrab, gotong royong. Event begini bagus, selain melestarikan budaya, membuat kita lebih akrab, dan yang paling penting adalah menggerakkan ekonomi kita jadi bertumbuh, UMKM-UMKM kita bertumbuh,” tambahnya.

Mengulas konsep keberagaman yang diusung dalam event tersebut, dr. Christian menyampaikan pemaknaan mendalam mengenai harmoni di tengah masyarakat Kota Kupang yang multietnis. 

Menurutnya, perbedaan suku, agama, dan latar belakang merupakan keunikan yang harus dirawat bersama.

“Kota Kupang ini terdiri dari berbagai etnis, berbagai suku, berbagai agama. Harmoni itu bukan sama atau seragam, tapi seimbang. Kita tidak bisa menyamakan semua orang. Orang lahir dengan keunikannya masing-masing. Ada orang Rote, Sabu, Timor, ada yang kulitnya cokelat, putih, hitam. Tapi kita bisa hidup berdampingan dengan seimbang. Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi seimbang,” tegasnya.

Ia pun mengoperasionalkan filosofi harmoni tersebut dengan mengaitkannya pada alunan musik dan keindahan kain tenun adat yang dikenakan oleh Plt. Lurah Merdeka.

“Layaknya nada-nada dalam sebuah lagu, dia beda-beda tapi ditaruh dalam proporsi yang pas, dia jadi lagu yang indah dan harmoni. Sama dengan baju adat yang Ibu Plt. Lurah pakai, terdiri dari berbagai macam warna benang, tapi ditaruh dalam satu kain yang pas, dia jadi sebuah harmoni yang indah. Itulah Kota Kupang. Keberagaman di Kota Kupang bukan menjadi penghalang tetapi menjadi kekuatan, bukan menjadi jarak pemisah tetapi menjadi jembatan,” tutur Wali Kota Kupang sebelum secara resmi membuka pergelaran budaya tersebut.