Selama program berjalan, capaian vaksinasi di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah mengalami peningkatan sebanyak tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan provinsi lainnya. Percepatan vaksinasi ini tentunya mendapat dukungan berbagai mitra pelaksana lokal di masing-masing provinsi, yaitu Jalin Foundation (Jawa Tengah), Migrant CARE (Jawa Tengah), Yayasan IDEP Selaras Alam (Bali), PKBI (Daerah Istimewa Yogyakarta), Sulawesi Community Foundation (Sulawesi Selatan), CIS Timor (Nusa Tenggara Timur). Selain dengan menggandeng kemitraan, AIHSP juga mengembangkan Pedoman Komunikasi Risiko untuk Krisis Kesehatan, dan Pedoman Komunikasi Perubahan Perilaku Pencegahan COVID-19.

“Program Last Mile menekankan pada penerapan komunikasi risiko, pelibatan masyarakat, dan inklusivitas. Pembelajaran dari program ini dapat diterapkan pada aspek lain di sektor kesehatan seperti stunting, bahkan tidak terbatas pada manusia melainkan juga pada hewan. Program ini mendukung penuh program One Health yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan,” sambungnya.

Hadir dalam kesempatan yang sama, dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Koordinator Nasional AIHSP-VAHSI memaparkan adanya tantangan selama pelaksanaan program vaksinasi inklusif.

“Saat itu, kami menemukan minimnya informasi vaksinasi COVID-19 yang diterima oleh kelompok rentan. Lalu juga waktu pelaksanaan vaksinasi yang tidak fleksibel, panjangnya antrian, tidak adanya juru bahasa isyarat atau JBI yang sebenarnya dibutuhkan oleh kelompok disabilitas, serta masih adanya diskriminasi pada kelompok tersebut. Selain itu, investasi pada generasi muda  juga sangat penting untuk memupuk para agen perubahan ke depan. Untuk mengatasinya, AIHSP melalui program VAHSI segera menginisiasi kolaborasi dalam bentuk pentahelix yang melibatkan pemerintah, universitas, jurnalis, private sector, hingga organisasi masyarakat yang kami harap mampu menyebarkan metode komunikasi risiko yang lebih baik,” jelas Yulianto.

Pembelajaran vaksinasi inklusif COVID-19 di lima provinsi

Pembelajaran vaksinasi inklusif dapat diambil dari praktik baik yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. Program dengan alokasi anggaran lebih dari AUD6.200.000 ini telah menjangkau langsung lebih dari 450.000 orang berisiko tinggi di lima provinsi tersebut.