KUPANG, KN — Sejak pukul 07.00 WITA, ketenangan Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang berubah menjadi barisan penuh kedisiplinan. 

Suara langkah tegap 36 anggota Paskibraka Kota Kupang yang memecah keheningan menandai dimulainya Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia tingkat Kota Kupang Tahun 2026. 

Di atas panggung kehormatan, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo bertindak selaku Inspektur Upacara dengan didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang dr. Widya Cahya serta Wakil Wali Kota Serena Francis. 

Kehadiran jajaran Ketua DPRD Kota Kupang, Sekda, para Asisten Setda, serta unsur Forkopimda dalam balutan pakaian adat daerah kian mempertegas kesan khidmat dan persatuan di bawah naungan tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Di balik kekhidmatan prosesi pengibaran bendera, Pemerintah Kota Kupang menyelipkan pesan emosional melalui pakaian adat Manggarai dan Sikka berunsur warna gelap yang dikenakan jajaran kepala daerah sebagai simbol duka cita atas bencana gempa Flores.

“Hari ini saya dan Ibu Wakil memilih pakaian adat Flores. Saya menggunakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil menggunakan pakaian adat Sikka. Ini bentuk dukungan dan doa kita untuk keluarga-keluarga yang terdampak bencana gempa bumi,” kata dr. Christian Widodo.

Wali Kota menyampaikan bahwa pemilihan warna dasar hitam diniatkan sebagai penghormatan serta duka cita mendalam bagi para korban.

“Dasarnya hitam, artinya kita turut berbela sungkawa kepada keluarga-keluarga yang telah meninggal dunia. Jadi, warna hitam ini melambangkan turut berbela sungkawa,” tambah dr. Christian Widodo.

Ia menekankan pentingnya menjaga rasa persaudaraan dan kebersamaan di tengah momen bersejarah peringatan kemerdekaan bangsa.

“Di hari ketika kita merayakan kemerdekaan, kita kembali diingatkan bahwa Indonesia bukan hanya dipersatukan oleh sejarah, tetapi juga oleh rasa sepenanggungan. Ketika satu daerah berduka, kita semua ikut merasakan. Ketika satu saudara sedang menghadapi kesulitan, saudara yang lain hadir menguatkan,”tegasnya.

Pesan penguatan dan belasungkawa tersebut dipertegas oleh Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis yang menyoroti makna di balik busana adat yang dikenakannya pada perayaan kemerdekaan kali ini.

Di tengah suasana duka atas gempa yang melanda Flores, Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momen untuk menundukkan hati dan menguatkan solidaritas. Hari ini, mengenakan nuansa hitam serta Tenun Flores sebagai bentuk penghormatan dan empati bagi saudara-saudara kita yang sedang berduka. Semoga Flores diberi kekuatan, ketabahan, dan pemulihan,” ungkap Serena Francis.