KUPANG, KN — Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Tahun 2026 sebagai langkah konkret membangun budaya sadar cuaca di kalangan masyarakat pesisir Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang dipusatkan di Gedung GMIT Lahairoi Kelurahan Lasiana pada Selasa (4/8) ini dirancang guna meminimalisasi risiko kecelakaan di perairan akibat perubahan iklim yang dinamis sekaligus mendongkrak produktivitas sektor perikanan.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Andreudson Tungga, memaparkan bahwa kondisi geografis NTT yang berbasis kepulauan menuntut adanya kecakapan khusus bagi para pelaku usaha perikanan dalam membaca kondisi laut.
Pada penyelenggaraan tahun ini, SLCN diikuti oleh 34 peserta terdaftar, mencakup 25 nelayan Lasiana, 5 nelayan Kampung Solor, serta 4 penyuluh perikanan daerah.
Para peserta mendapat pembekalan teknis mengenai navigasi informasi BMKG, pemetaan tinggi gelombang, hingga pembacaan sistem peringatan dini cuaca ekstrem.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Manajemen Operasi dan Kerja Sama Meteorologi Maritim BMKG, Yuli Kartiningsih, M.Si., menggarisbawahi bahwa potensi kekayaan maritim Indonesia yang melimpah perlu diimbangi dengan kesadaran mitigasi bencana yang mumpuni.
Melalui penyelenggaraan SLCN ini, BMKG menargetkan lahirnya ekosistem perikanan tangkap yang tidak hanya andal, melainkan juga mengedepankan kalkulasi keselamatan secara terukur sebelum bertolak dari pesisir.
“Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, BMKG ingin membangun budaya sadar cuaca agar nelayan tidak hanya mampu mengakses informasi prakiraan cuaca, tetapi juga memahami dan memanfaatkannya sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum melaut. Program tersebut diharapkan mampu mewujudkan nelayan yang hebat, selamat, dan sejahtera,” terang Yuli Kartiningsih. (agn)



Tinggalkan Balasan