KUPANG, KN — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menekankan bahwa tantangan terbesar insan pers di era disrupsi digital bukanlah ancaman keberadaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) maupun maraknya pembuat konten, melainkan keberhasilan dalam merawat integritas dan kepercayaan masyarakat. 

Hal tersebut ditegaskan saat membuka Kegiatan Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur di Aula Sekretariat SMSI NTT, Kupang, Rabu (5/8).

Acara pembukaan ini dihadiri oleh Ketua SMSI NTT Benediktus S. S. Jahang beserta jajaran pengurus, Kepala Dinas Kominfo Kota Kupang Ariantje M. Baun, S.E., M.Si., Camat Oebobo Zet Batmalo, S.H., M.H., Pelaksana Tugas Lurah TDM, serta puluhan jurnalis dari pelbagai media. 

Dalam arahannya, dr. Christian menyebutkan bahwa pers memiliki kedudukan strategis sebagai penghubung komunikasi antara pemerintah dan warga. 

Tanpa penyampaian pesan yang tepat dan edukatif, program pembangunan daerah berisiko disalahartikan oleh publik.

Wali Kota juga memberikan kritik terhadap tren media sosial saat ini yang condong mengejar jumlah tayangan dan interaksi demi kepentingan konten belaka tanpa memedulikan keakuratan data.

“Tantangan terbesar pers yang tidak akan lekang oleh waktu bukanlah sekadar ancaman AI, maraknya influencer, atau gempuran hoaks. Semua itu ada masa waktunya. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kepercayaan publik,” ujar dr. Christian Widodo.

Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap penguatan kapasitas wartawan, Wali Kota menginstruksikan Dinas Kominfo Kota Kupang untuk memfasilitasi kerja sama dengan lima jurnalis bersertifikasi dari SMSI NTT pada anggaran perubahan mendatang dalam rangka mengawal program pemerintah. 

Selain itu, dr. Christian secara pribadi menyerahkan bantuan satu unit laptop guna menunjang operasional Sekretariat SMSI NTT. (agn)