KUPANG, KN — Perhelatan perayaan budaya di tingkat kelurahan tidak sekadar hadir sebagai sarana hiburan seni, melainkan bertransformasi menjadi pendorong roda ekonomi masyarakat lokal.
Peringatan Festival Budaya Liliba yang diselenggarakan pada 12-14 Agustus 2026 di lokasi RW 11 dirancang untuk menggerakkan potensi ekonomi kreatif di level rukun tetangga (RT).
Penyelenggaraan kegiatan ini akan menjadi bentuk implementasi nyata dari komitmen Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Serena Cosgrova Francis dalam mendorong daya saing UMKM serta memperkuat ketahanan pangan lokal sebagai bagian dari agenda prioritas pembangunan sosial-ekonomi daerah.
Pemberdayaan 50 RT dan Inovasi Kuliner Nusantara
Dalam perhelatan kali ini, sebanyak 50 RT di wilayah Kelurahan Liliba dilibatkan secara aktif untuk menampilkan berbagai produk UMKM unggulan.
Salah satu perlombaan yang menarik perhatian adalah tantangan mengolah pangan lokal berkualitas dengan modal batasan harga bahan baku maksimal Rp200.000.
Lomba ini menuntut kreativitas warga dalam menyajikan hidangan lezat, sehat, dan bernilai jual dari bahan dasar pangan lokal NTT.
Lurah Liliba, Viktor A. Makoni, S.Sos., menegaskan bahwa partisipasi penuh dari seluruh lapisan warga dan kepanitiaan yang solid menjadi kunci utama terwujudnya ajang ekonomi-budaya ini.
“Akan ada UMKM tiap-tiap RT. Sebanyak 50 RT akan mengelola berbagai jenis UMKM. Nantinya bisa dibeli oleh warga dan pengunjung. Ada juga lomba pidato tentang sampah dan daur ulang sampah oleh anak SD. Pangan lokal dengan harga bahannya 200 ribu akan diolah bahannya oleh para peserta kalangan ibu-ibu,” tutur Viktor A. Makoni menekankan fokus pemberdayaan ekonomi di kelurahannya.
Sinergi Pemuda dan Peningkatan Daya Beli Warga
Kepanitiaan festival yang dipimpin oleh Jean Salem bersama unsur masyarakat di RW 11—yang membawahi tiga RT setempat—telah bergerak sejak dua bulan lalu melakukan penataan area pameran, pembersihan lingkungan, hingga penyebaran undangan.



Tinggalkan Balasan