“Mulai 2027, kita targetkan setiap kabupaten/kota memiliki industri lokal agar komoditas unggulan tidak hanya dijual mentah, tetapi diolah dan memberi nilai tambah bagi daerah. Hilirisasi harga mati! Potensi harus menjadi peluang, peluang harus menciptakan lapangan kerja, dan hasilnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Gubernur Melki Laka Lena di podium utama.
Gubernur menambahkan bahwa sinergisitas empat pilar (quadruple helix)—pemerintah, akademisi, peneliti, dan dunia usaha—merupakan kunci utama agar riset ekonomi tidak berhenti sebagai dokumen di perpustakaan, melainkan berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja baru.
“Melalui KARSA NUSA 2026, kita dorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, dan dunia usaha untuk mengolah potensi NTT menjadi kekuatan ekonomi. Mari bersama membangun NTT yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan!” pungkas Gubernur Melki Laka Lena.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi penganugerahan hadiah (awarding) bagi para peneliti muda, mahasiswa, dan akademisi peraih juara kompetisi Call for Paper KARSA NUSA 2026, disusul dengan foto bersama seluruh perwakilan jajaran Forkopimda NTT dan pimpinan Bank Indonesia Kantor Perwakilan NTT. (agn)







Tinggalkan Balasan