Kupang, KN – Film drama keluarga Beautiful Pain menggelar special screening di Cinepolis Kupang, Minggu (18/10/2026). Film berdurasi 99 menit ini mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan menghadapi pelecehan seksual, fitnah, dan ketidakadilan, sekaligus menyuarakan pentingnya keberanian untuk memperjuangkan hak dan martabat diri.
Film produksi Dapur Film tersebut mengisahkan Niken, seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari keterpurukan melalui kariernya sebagai aktris. Namun, kehidupan yang mulai ditata kembali itu berubah ketika ia menghadapi pelecehan seksual dan fitnah yang merusak reputasinya hingga kehilangan hak asuh atas anak-anaknya.
Dalam situasi sulit tersebut, Niken berusaha melawan ketidakadilan dengan dukungan orang-orang terdekatnya. Ia berjuang menghadapi sistem yang dinilai bias demi mendapatkan kembali martabat, keluarga, serta hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Kisah Niken menjadi gambaran perjuangan perempuan yang kerap menghadapi tekanan berlapis, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun lingkungan kerja.
Soroti Suara Perempuan yang Kerap Dibungkam
Sutradara Beautiful Pain, Dmaz Brodjonegoro, menjelaskan bahwa film tersebut lahir dari kegelisahannya melihat suara perempuan yang masih mudah dibungkam, tidak hanya oleh individu, tetapi juga oleh sistem yang terkadang lebih melindungi kekuasaan daripada kebenaran.
Menurutnya, perempuan yang berani mengungkapkan pengalaman dan ketidakadilan yang dialaminya tidak jarang justru berhadapan dengan stigma, ketidakpercayaan, hingga pengucilan.
Karakter Niken dihadirkan sebagai sosok yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Ia merupakan seorang ibu yang berjuang mempertahankan martabat, hak asuh anak, dan hak untuk menentukan kisah hidupnya sendiri.
Melalui latar industri televisi, film ini juga menyoroti persoalan relasi kuasa dan eksploitasi yang dapat membawa dampak besar terhadap kehidupan seseorang.
Beautiful Pain tidak hanya berbicara tentang trauma, tetapi juga tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara yang selama ini terbungkam.
Pesan utama yang ingin disampaikan kepada penonton pun sederhana, tetapi kuat: jangan takut untuk bersuara.
Film ini disutradarai Dmaz Brodjonegoro dan diproduseri Hanung Bramantyo, dengan Nikita Mirzani sebagai executive producer.
Skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz Brodjonegoro.
Sejumlah aktor dan aktris Indonesia turut membintangi film tersebut, antara lain Raihaanun sebagai Niken, Baim Wong sebagai Dirga, Jajang C. Noer sebagai Rahmania, Tarra Budiman sebagai Randy, Nikita Mirzani sebagai Marcella, Dimas Aditya sebagai Gerry, Siti Fauziah sebagai Sekarsari, serta Sha Ine Febriyanti sebagai Nadya Karna.
Film ini juga diperkuat oleh Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, dan Berliana Lovell.
Penonton: Film Ini Jadi Refleksi Kehidupan Keluarga
Salah seorang penonton, Hendrikus Mamun, mengaku terkesan setelah menyaksikan Beautiful Pain. Menurutnya, film tersebut memberikan banyak refleksi mengenai kehidupan keluarga, terutama peran seorang ibu dan ayah ketika menghadapi persoalan rumah tangga.
“Pemilihan filmnya sangat luar biasa. Bagaimana peran seorang ibu, peran seorang ayah, lalu bagaimana seorang ibu menghadapi masalah dan menyelesaikannya,” kata
Hendrikus usai menyaksikan film tersebut.
Ia menilai film itu menggambarkan perjuangan seorang ibu yang harus menghadapi tekanan di dunia kerja sekaligus persoalan yang berkaitan dengan anak-anak dan keluarganya.
“Menjadi seorang perempuan itu sebenarnya harus kuat menghadapi bermacam persoalan,” ujarnya.
Hendrikus mengatakan, persoalan dalam keluarga perlu diselesaikan dengan kepala dingin dan keberanian. Setiap keputusan yang diambil suami maupun istri juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap anak-anak.
Baginya, Beautiful Pain menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga, terutama ketika rumah tangga berada dalam situasi sulit.
“Anak, istri, suami itu tidak bisa dipisahkan. Sebelum mengambil keputusan dalam suatu masalah, kita harus berpikir lebih dahulu,” katanya.
Sebagai seorang laki-laki dan ayah, Hendrikus juga menangkap pesan tentang pentingnya tanggung jawab seorang suami dalam memahami istri dan anak-anaknya.
Ia mengingatkan bahwa kesenangan dan pergaulan di luar rumah harus tetap memiliki batas agar tidak menjadi sumber persoalan yang merusak hubungan keluarga.
“Sebagai suami ada batas-batas sosial yang kita harus tahu diri,” pungkasnya.
Perempuan Harus Mandiri dan Berani Bersuara
Pandangan lain disampaikan penonton, Astary Folla. Ia menilai Beautiful Pain membawa pesan kuat mengenai pentingnya kemandirian perempuan, baik secara ekonomi maupun dalam menentukan sikap ketika menghadapi persoalan.
Menurut Astary, perempuan perlu memiliki penghasilan dan kekuatan sendiri agar mampu berdiri secara mandiri. Kemandirian tersebut juga penting ketika perempuan menghadapi persoalan dalam rumah tangga maupun lingkungan sosial.
“Perempuan harus punya power sendiri, punya penghasilan sendiri dan harus berani bicara. Dia harus berani menyampaikan apa yang dialami dalam rumah tangga,” kata Astary.
Selain menyoroti posisi perempuan, Astary juga melihat pesan penting dari sudut pandang anak. Ia menilai anak tidak seharusnya terburu-buru menyalahkan atau menuntut orang tua tanpa memahami persoalan yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
“Sebagai anak, kita juga tidak boleh langsung menuntut atau menyalahkan orang tua karena kita tidak tahu apa yang mereka alami dan masalah yang sedang mereka hadapi,” ujarnya.
Astary menegaskan, keberanian bersuara menjadi sangat penting ketika seorang perempuan mengalami pelecehan. Korban perlu mendapatkan ruang dan dukungan untuk menyampaikan pengalaman serta memperjuangkan haknya.
“Ketika perempuan mendapatkan pelecehan, perempuan harus berani bicara tentang apa yang dia rasakan dan harus berani melaporkan apa yang dialami,” tegas Astary.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi salah satu pelajaran penting dari Beautiful Pain, terutama dalam mendorong perempuan agar tidak takut mengungkapkan pengalaman yang dialami dan memperjuangkan haknya.
Melalui kisah Niken, film ini mengajak penonton melihat persoalan keluarga, ketidakadilan, dan pelecehan dari berbagai sudut pandang. Film tersebut juga mengingatkan bahwa keberanian untuk bersuara, dukungan orang-orang terdekat, serta tanggung jawab dalam keluarga merupakan hal penting ketika seseorang menghadapi masa-masa sulit. (*)







Tinggalkan Balasan