Kupang, KN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, memimpin rapat secara daring bersama Pertamina dan unsur terkait, untuk membahas kelangkaan BBM, Selasa (13/10/2026).
Dalam arahannya, Gubernur NTT meminta agar Pertamina lebih intens berkoordinasi dengan Pemprov NTT. Ia menyebut, pemerintah punya jaringan sampai ke tingkat pusat yang bisa dimanfaatkan, agar kelangkaan BBM bisa diantisipasi sejak dini.
“Hampir semua jalur yang menjadi otoritas untuk menentukan kebijakan migas atau BBM ini, rata-rata punya hubungan baik dengan kami di NTT. Jadi kita akan saling topang, agar kejadian kemarin kita bisa respons lebih awal,” kata Melki Laka Lena.
Selain koordinasi, Melki meminta Pertamina untuk menghitung kembali kuota BBM untuk NTT. Jika kuota BBM masih kurang, maka pemerintah Provinsi NTT akan membicarakan hal ini dengan pemerintah pusat.
Di samping itu, Melki juga meminta aparat penegak hukum dalam hal ini TNI-POLRI untuk melakukan operasi di wilayah perbatasan khususnya Kabupaten Belu, untuk mengantisipasi penyelundupan BBM.
“Kita di NTT kalau kelangkaan BBM khususnya minyak tanah dan kalau ibu-ibu sudah turun, saya paling takut. Jadi kita upayakan agar minyak tanah aman, demikian pula BBM yang lain,” ujarnya.
Melki berharap semua pihak di NTT yang berkaitan dengan migas, harus rutin melakukan pertemuan, untuk mengantisipasi kelangkaan BBM di NTT.
“Ada atau tidak ada masalah, kalau perlu setiap bulan sekali perlu duduk bersama untuk evaluasi perkembangan penyaluran BBM di NTT. Kalau nyata-nyata harus ada penambahan kuota, kita boleh proses, karena kebutuhan masyarakat dan penambahan kendaraan cukup tinggi,” timpalnya.
Sales Area Manager Pertamina NTT, Mahdi Syafar menjelaskan bahwa, antrean yang terjadi pada akhir pekan dipicu keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM.
Kapal yang semula dijadwalkan tiba pada Jumat baru sampai di Terminal BBM Tenau pada Sabtu sore. Keterlambatan tersebut terjadi karena antrean di Kilang Balikpapan. Kapal itu membawa sekitar 6.500 kiloliter atau 6,5 juta liter Pertalite.
Setelah kapal tiba, Pertamina langsung mempercepat normalisasi penyaluran. Bahkan, distribusi tetap dioptimalkan pada Minggu, yang biasanya menjadi hari libur operasional depot, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pada Senin, penyaluran Pertalite di Kota Kupang dimaksimalkan hingga sekitar 312.000 liter yang didistribusikan ke sekitar 15 SPBU, mulai dari wilayah Oebufu hingga Oesapa.
Pertamina juga menyebut kuota BBM di wilayah NTT secara umum tidak mengalami kendala. Untuk produk Pertalite di wilayah DWP 4, tercatat penambahan sekitar 1,57 persen tanpa pengurangan kuota.
Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat, Pertamina meningkatkan estimasi pasokan harian BBM bagi Kota Kupang.
“Jika rata-rata penyaluran normal berada pada kisaran 200 kiloliter atau 200.000 liter per hari, pasokan ditingkatkan menjadi sekitar 300 kiloliter atau 300.000 liter per hari,” jelasnya.
Pertamina menyatakan stok di terminal BBM bersifat dinamis. Karena itu, pemantauan persediaan dan koordinasi dengan kapal pengangkut berikutnya terus dilakukan agar distribusi ke berbagai daerah tetap terjaga.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan panic buying atau membeli BBM secara berlebihan. Pembelian diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menambah antrean dan mengganggu kelancaran pelayanan di SPBU. (*)







Tinggalkan Balasan