Kupang, KN — Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang memperkuat komitmennya untuk menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, inovatif, berkarakter, dan mampu bersaing pada era penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kolaborasi antara UNITRI dan Pemerintah Provinsi NTT tidak hanya dipandang sebagai kerja sama pendidikan formal, melainkan sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun masa depan NTT.

Ke depan NTT membutuhkan generasi muda yang mampu mengelola kekayaan sumber daya alam, menjawab tantangan pembangunan, serta melahirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kepemimpinan.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menekankan bahwa pembangunan SDM harus mendapat perhatian utama apabila NTT ingin semakin maju dan berdaya saing. Pendidikan perlu diarahkan untuk membentuk generasi yang menguasai pendekatan STEM, yaitu Science, Technology, Engineering, and Mathematics.

Pendekatan tersebut penting agar generasi muda NTT tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengembangkan, dan menerapkan teknologi bagi kemajuan daerah.

Penguatan STEM relevan bagi berbagai sektor pembangunan NTT, mulai dari pertanian, peternakan, kelautan, perikanan, energi, kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, hingga layanan pemerintahan berbasis digital. Dengan kemampuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika yang baik, mahasiswa asal NTT diharapkan dapat menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, karakter geografis daerah, serta potensi ekonomi lokal.

Namun demikian, penguasaan IPTEK harus disertai pembentukan karakter. Karena itu, Johni Asadoma juga menekankan pentingnya pengembangan pendidikan yang berbasis SHARE. Nilai tersebut mencakup social, humanities, art, religious study dan education.

Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, tahan menghadapi tantangan, serta siap mengabdi bagi masyarakat dan daerah asal.

Menurut Rektor UNITRI, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., UNITRI siap menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi NTT dalam menyiapkan SDM unggul melalui pendidikan tinggi yang inklusif dan berorientasi pada masa depan.

Wujud konkret kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui skema beasiswa Pemerintah Daerah bagi putra-putri NTT, yang diperkuat dengan dukungan Beasiswa Yayasan Bina Pendidikan Nusantara (YBPN), pengembangan pendidikan berbasis STEM dan SHARE, serta riset terapan untuk menjawab kebutuhan pembangunan NTT dimana UNITRI sudah menyiapkan Agro Edu Park sebagai sekolah lapang berbasis pertanian dan peternakan.

Salah satu bentuk kolaborasi yang penting adalah penyediaan beasiswa bagi putra-putri NTT. UNITRI membuka ruang kerja sama dengan pemerintah daerah di lingkungan Provinsi NTT agar semakin banyak lulusan sekolah menengah dari daerah dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Skema ini dapat memadukan dukungan beasiswa pemerintah daerah untuk kebutuhan hidup mahasiswa dengan dukungan UNITRI melalui pembiayaan pendidikan dan proses pembelajaran.

Selain beasiswa dari pemerintah daerah, UNITRI juga memberikan peluang melalui Beasiswa Yayasan Bina Pendidikan Nusantara (YBPN) yang sudah hadir lebih dari dua dekade bagi masyrakat NTT yang ingin mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas.

Kehadiran beasiswa yayasan tersebut diharapkan memperluas akses pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi maupun mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. UNITRI telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah dalam penyediaan beasiswa, dengan peran kampus dalam menopang pembiayaan SPP dan pembelajaran mahasiswa.

Johni menegaskan bahwa kolaborasi tersebut harus menghasilkan lulusan yang dapat kembali berkontribusi bagi NTT. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga untuk menjadi penggerak inovasi, wirausahawan, pendidik, peneliti, profesional, dan pemimpin pembangunan di wilayahnya.

Ini dikofirmasi oleh Prof Dodi bahwa ketika STEM dan SHARE berjalan beriringan, NTT tidak hanya tumbuh menjadi daerah yang modern secara fisik, tetapi juga matang secara sosial dan kultural. Inovasi teknologi terapan yang lahir dari penekanan pendidikan STEM akan diterapkan dengan pendekatan humanis yang dirancang oleh para ahli SHARE.

“Kombinasi inilah yang akan melahirkan pembangunan daerah yang inklusif—sebuah lompatan besar menuju NTT yang berdaya saing global tanpa kehilangan akar budaya lokalnya,” imbuhnya. (*/ab)