KUPANG, KN — Pembahasan mengenai penguatan ekonomi kawasan perbatasan serta renovasi sarana ibadah menjadi agenda penting dalam serangkaian audiens yang dipimpin langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena di Kupang pada Rabu (30/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja berdesain elegan berpanel kayu hangat tersebut dipenuhi suasana diskusi yang hangat namun tetap produktif dan fokus.
Pada sesi pertama, jajaran pengurus KADIN NTT yang dipimpin Ketua Umum Bobby Lianto hadir mengenakan seragam kemeja putih rapi, duduk mengelilingi meja rapat kayu berukuran panjang yang tertata dengan deretan botol air mineral dan berkas kajian.
Sementara itu, pada sesi berikutnya, jajaran panitia pembangunan gereja bersama pimpinan paroki menyimak pemaparan rencana perbaikan struktur bangunan dalam atmosfer penuh keakraban.
Dalam pertemuannya bersama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) NTT Bobby Lianto beserta pengurus, fokus utama tertuju pada peluang pembentukan kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) antara Indonesia dan Timor-Leste.
Melki menegaskan bahwa skema FTZ harus memberikan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur.
“Bagi saya, FTZ bukan sekadar soal kawasan perdagangan atau keluar-masuk barang. Yang paling penting: apa yang dirasakan masyarakat NTT? Produk lokal harus punya pasar lebih luas. UMKM harus naik kelas. Pelaku usaha harus punya ruang tumbuh. Dan masyarakat di kawasan perbatasan harus menjadi bagian utama dari pertumbuhan itu,” ujar Melki Laka Lena di sela-sela pembahasan.
Ia menambahkan bahwa percepatan ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperluas jejaring perdagangan regional hingga ke Darwin, Australia, guna menciptakan ekosistem bisnis yang saling menguntungkan.
Sebelumnya, KADIN NTT sendiri telah melakukan serangkaian kunjungan lapangan ke perbatasan, Timor-Leste, hingga Australia, serta menggelar FGD FTZ pada 15 September lalu.
Menurut Melki, kawasan perbatasan sudah sepatutnya difungsikan sebagai gerbang peluang ekonomi, bukan sekadar garis pembatas wilayah.
Selain mendiskusikan agenda ekonomi, pada hari yang sama Melki turut menerima audiensi dari Pastor Paroki St. Yoseph Naikoten, Romo John Rusae, bersama Ketua Panitia Pembangunan Gereja St. Yoseph Naikoten, Yovita Mitak.
Pertemuan tersebut membahas perbaikan dan pembaruan fisik gedung gereja yang telah berdiri sejak tahun 1975, khususnya pada struktur tiang-tiang penyangga utama yang memerlukan penanganan serius.
Melki menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh proses rehabilitasi rumah ibadah bersejarah tersebut melalui skema gotong royong.
“Saya mendukung upaya ini. Kita akan menggalang dukungan para donatur dan mengajak ASN Pemprov NTT yang merupakan umat Paroki St. Yoseph Naikoten untuk ikut bergotong royong. Saya ingin gereja ini bukan hanya menjadi tempat ibadah yang aman dan nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari wajah Kota Kupang,“ ungkapnya.
Seluruh rangkaian audiensi ini menegaskan semangat kerja bersama dalam membangun NTT, baik melalui penguatan sektor ekonomi perbatasan maupun pembenahan sarana keagamaan dan sosial. (agn)






Tinggalkan Balasan