Selain panduan perawatan, para peserta diajak mempraktikkan metode klasik 3D—dilihat, diraba, dan diterawang—guna mendeteksi keaslian mata uang secara mandiri.

“Di uang rupiah ada beberapa tekstur yang terasa kasar, seperti pada gambar pahlawan, burung Garuda, dan nominal,” jelasnya sambil menunjukkan letak permukaan timbul pada replika uang kertas yang dipegangnya.

Lebih jauh, Bella menyerukan agar masyarakat tidak hanya sekadar menyimpan rupiah, melainkan aktif menggunakannya dengan bijak sebagai satu-satunya instrumen pembayaran yang sah demi menopang roda perekonomian lokal dan mendukung produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kalau kita sudah mencintai rupiah, kita juga harus bangga menggunakan rupiah. Kita juga bisa berhemat dengan menabung, berinvestasi, dan lebih memilih produk-produk lokal,” ungkap Bella menambahkan.

Adapun dukungan konkret Bank Indonesia Perwakilan NTT dalam rangkaian kegiatan ini tidak hanya berhenti pada edukasi literasi keuangan, tetapi juga memfasilitasi pembukaan rekening kerja perbankan bagi para kader PKK di tingkat kelurahan guna menunjang kelancaran tata kelola administrasi. 

Sinergi lintas lembaga ini diharapkan mampu memantapkan pelaksanaan 10 Program Pokok PKK demi mewujudkan kesejahteraan keluarga di seluruh wilayah Kecamatan Kota Lama. (agn)