Oleh: Bernardus Tube Beding
Pegiat Literasi dan Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng
 
Saat ini generasi digital telah mengalami banyak perubahan dan kemajuan, bahkan sampai memunculkan berbagai masalah. Kini, berbagai alat digital yang berkembang di kalangan masyarakat. Hal ini memudahkan setiap orang cepat menyampaikan aspirasi dan komentarnya hanya dengan menekan tombol “share” tanpa khawatir diciduk pihak berwajib. Ternyata, kenikmatan berpendapat atau berkomentar tidak diimbangi dengan kemawasan dan kedewasaan diri, alih-alih memperhatikan aspek sosial dan budaya, serta hanya terbawa dalam amarah menghilangnya nostalgia masa kecil.
 
Sekadar Bernostalgia

Tentu, kita masih ingat peristiwa pemblokiran anime di televisi, ketika KPI mendapat sorotan berbagai komentar tentang tayangan-tayangan di televisi swasta. Saat itu, KPI menilai sejumlah adegan pada program anak-anak di televisi yang dapat berdampak buruk bagi perkembangan fisik dan mental anak. Muatan itu mulai dari kekerasan fisik, kekerasan terhadap hewan, penggunaan senjata tajam dan benda keras untuk menyakiti dan melukai, kata-kata kasar, hingga perilaku yang tidak pantas (pornografi) yang dengan gamblang ditayangkan setiap harinya di berbagai stasiun televisi dengan frekuensi dua kali sehari. Atas kejadian itu, KPI mulai menghentikan dan menyensor tayangan mulai dari Tom & Jerry (ANTV, RCTI, dan Global TV), One Piece (Global TV), Death Note (Global TV), Crayon Shinchan (RCTI), Detective Conan (Indosiar).

Peristiwa pemblokiran itu, sempat mendapat beragam komentar dari para netizen. Bahkan, KPI menjadi bulan-bulanan netizen yang mengalami egoisme berkedok kerinduan masa kecil. Netizen tidak menyadari bahwa media dan pemilik kepentinganlah yang menuai untung berkat literasi media yang rendah tersebut, tanpa memilikirkan perkembangan karakter generasi.

Sejujurnya, anime itu ditujukan bukan untuk anak-anak, tetapi ditujukan untuk remaja 15 tahun ke atas. Hanya saja pola pikir orang Indonesia yang sudah sejak lama keliru, karena menganggap segala sesuatu yang berbau animasi adalah tayangan untuk anak-anak. Walaupun masih banyak anime yang bobot ceritanya ringan, penuh adegan dengan karakter lucu, dan dipadu dengan animasi warna-warni yang menarik. Khas sekali dengan karakteristik anak-anak usia 6-9 tahun. Hanya saja, tidak semua judul anime seperti itu. Padahal kita tahu bahwa “Hentai” yang khusus dibuat untuk tayangan orang dewasa. Bayangkan, jika “Hentai” sampai yang isinya animasi untuk dewasa ditayangkan untuk anak-anak.