“Anak-anak muda mana yang bisa paling bagus memberikan solusi kepada kami, kami pakai itu sebagai kebijakan,” tegas dr. Christian.

Ia menambahkan bahwa jika terdapat persoalan di tengah masyarakat, mahasiswa hendaknya tidak berhenti pada penyampaian kritik semata, melainkan hadir membawa solusi yang dapat diuji dan diterapkan langsung oleh pemerintah.

Selain menawarkan wadah adu gagasan, Wali Kota juga membeberkan pentingnya pemetaan bakat (talent mapping) dan pembentukan ekosistem kepemudaan yang memadai, mulai dari porsi ruang kreatif, kemudahan akses jejaring, hingga penyelarasan dunia pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja. 

Mengenai partisipasi politik anak muda, ia berpesan agar mahasiswa tetap kritis dan menghindari sikap apatis. 

Keterlibatan politik, menurutnya, tidak selalu diukur dari pencalonan diri dalam pemilu, melainkan dari keberanian membuka ruang dialog yang sehat dan mencermati kebijakan secara objektif.

Dalam forum tersebut, Wali Kota turut menerangkan strategi pengelolaan keuangan daerah di tengah keterbatasan fiskal dengan mengedepankan efisiensi dan prioritas manfaat. 

Ia juga menggarisbawahi komitmen solidaritas Pemkot Kupang terhadap korban bencana gempa di Flores, termasuk memberikan perhatian kepada mahasiswa asal daerah terdampak yang sedang menempuh studi di Kota Kupang.

“Wilayah itu memiliki batas, lokasi bencana juga punya batas. Tetapi kemanusiaan tidak memiliki batas,”ucapnya lugas.

Menanggapi paparan tersebut, Ketua IMM NTT, Cakti Flobamorrinci A. Kirie, menyampaikan apresiasi mendalam atas keterbukaan Wali Kota Kupang dalam membangun komunikasi langsung dengan mahasiswa. 

Cakti menilai berbagai capaian Pemkot Kupang, seperti digitalisasi daerah, tata kelola keuangan, serta kepedulian sosial yang inklusif, merupakan langkah nyata yang patut didukung. 

IMM NTT menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra strategis yang kritis, konstruktif, dan solutif demi kemajuan Kota Kupang. (agn)