KUPANG, KN — Kolaborasi strategis antara Pemerintah Kota Kupang melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan PLAN International Indonesia resmi memperkuat mitigasi bencana lingkungan di Kota Kupang. 

Melalui penganugerahan program Cerdas Kelola Air dan Lahan Berkelanjutan (CERAH), kedua pihak menyelenggarakan lokakarya bersama di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang pada Rabu (30/9/2026).

Lokakarya yang berlangsung interaktif ini diwarnai dengan semangat inklusivitas.

 Di dalam gedung, para peserta duduk rapi mendengarkan paparan materi sebelum bersama-sama memeragakan gestur kepedulian lingkungan saat sesi foto dokumentasi.

 Kehadiran perwakilan disabilitas dan tokoh keagamaan mempertegas bahwa gerakan ekologis ini dirancang terbuka bagi seluruh elemen. 

Di luar ruangan, para pejabat dan aktivis lingkungan tampak memegang pipa silindris berlubang yang siap ditanam ke dalam tanah sebagai resapan air hujan alami.

Safeguarding Advisor sekaligus National Child Protection Advisor PLAN International Indonesia, Sigit Wacono, memaparkan bahwa pilar utama gerakan “Kupang Berair” menyasar perlindungan ekosistem darat secara menyeluruh.

“Gerakan Kupang Berair merupakan gerakan konservasi air dan tanah yang juga diarahkan untuk mendukung pengendalian banjir dan longsor serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan lahan,“ jelas Sigit di sela-sela acara.

Pendekatan inklusif yang diusung program CERAH memastikan pelibatan kelompok perempuan, anak-anak, pemuda, hingga kelompok disabilitas dalam perencanaan maupun eksekusi lapangan. 

Praktik baik ini sebelumnya telah berhasil diterapkan di lingkungan keagamaan. 

Pendeta Margaritha Heo Uly dari GMIT Betlehem Penkase Oeleta mengonfirmasi partisipasi aktif jemaatnya dalam membuat puluhan biopori mandiri.

“Pihak gereja bersama jemaat telah membuat 27 biopori dari total 60 kepala keluarga,“ tutur Pendeta Margaritha membagikan pengalamannya.

Inisiatif dari akar rumput tersebut membuktikan bahwa gerakan penyelamatan lingkungan dapat direplikasi secara luas. 

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H., menegaskan pentingnya partisipasi warga agar program konservasi ini dapat bertahan lama. 

Keterlibatan aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama agar program lingkungan tidak berhenti sebatas seremonial. (agn)