KUPANG, KN – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri malam penutupan perayaan Mooncake Festival 2026yang diselenggarakan di sepanjang jalan protokol El Tari pada Minggu (27/9/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan agar api persaudaraan dan rasa kepedulian sosial di Kota Kupang tetap menyala tajam meskipun gemerlap festival budaya Tionghoa tersebut telah usai.
Atmosfer kemeriahan bercampur kehangatan menyelimuti kawasan Jalan El Tari di bawah pendaran lampion-lampion merah yang menggantung indah.
Panggung utama dihiasi dekorasi megah dan hamparan bunga merah, menjadi pusat perhatian ratusan warga yang memadati area festival.
Hadir didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo yang berbusana seragam dinas hitam menyempatkan diri menyusuri lorong-lorong stan UMKM, berinteraksi hangat dengan para pedagang, berfoto bersama pengunjung, hingga menyapa balita di tengah kerumunan masyarakat.
Dalam pidatonya di atas podium panggung utama, dr. Christian Widodo menyampaikan bahwa perayaan tradisi ini menjadi wadah konkret untuk mengetuk hati warga Kota Kupang dalam membantu korban bencana gempa bumi di Flores.
“Mungkin saat bumi mengguncang saudara-saudari kita di Flores, kita tidak ada bersama mereka. Tetapi malam hari ini kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Wilayah mungkin memiliki batas, titik lokasi gempa mungkin memiliki batas, tetapi saya percaya kemanusiaan tidak memiliki batas,” ujar dr. Christian.
Selain menggalang aksi donasi kemanusiaan melalui kupon Rp10.000 dan posko barang layak pakai, dr. Christian mengapresiasi kebangkitan ekonomi kerakyatan melalui hadirnya 110 pelaku UMKM di festival tersebut.
Ia menegaskan bahwa deretan penghargaan berskala nasional yang baru diraih Kota Kupang—seperti peringkat III Akses Kesehatan, peringkat II Program Tiga Juta Rumah, serta peringkat I TP2DD—merupakan buah kolaborasi seluruh elemen warga.
“Kalau hari ini Kota Kupang bercahaya, itu bukan karena satu obor yang dinyalakan di Kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di kantor-kantor dinas, kecamatan, kelurahan, paguyuban, keluarga, RT dan RW. Lilin-lilin kecil itulah yang membuat Kota Kupang bercahaya,” kata dr. Christian mengakhiri sambutannya. (agn)






Tinggalkan Balasan