KUPANG, KN — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri syukuran 30 tahun imamat Romo Dr. Leonardus Mali, Pr., yang dipadukan dengan agenda bedah buku karya karya sang yubilaris berjudul Bergerak dari Pinggiran: Perjalanan, Liber Amicorum dan Galeri 30 Tahun Imamat RD. Dr. Leonardus Mali.

Acara penuh makna tersebut berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang pada Jumat (2/10/2026).

Suasana di dalam aula terasa begitu hangat, megah, dan penuh kekeluargaan. Panggung utama dihiasi hamparan bunga-bunga segar berwarna merah dan putih serta layar digital besar. Puluhan pimpinan daerah, biarawan-biarawati, tokoh masyarakat, akademisi, hingga mahasiswa lintas generasi tampak memadati ruangan. 

Di penghujung acara, para tamu undangan—termasuk Wali Kota Kupang yang mengenakan kemeja tenun batik bercorak khas—berdiri berjejer di bagian depan aula seraya mengangkat buku karya Romo Leo dan berfoto bersama.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., Ketua TP PKK Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, sejumlah anggota DPRD NTT, mantan Wakil Wali Kota Kupang Drs. Daniel D. Hurek, M.M., para imam, guru, aktivis, serta insan pers.

Dalam sambutannya dari podium utama, dr. Christian menekankan bahwa tajuk Bergerak dari Pinggiran memberikan cerminan mendalam bagi penyelenggaraan tata kelola pemerintahan, bukan sekadar refleksi bagi pelayanan gerejani. 

Menurutnya, “pinggiran” bukan semata letak geografis, melainkan cara pandang empati terhadap warga yang belum tersentuh perhatian publik.

“Kadang untuk melihat kehidupan lebih jernih, kita harus keluar dari pusat dan melihat dari pinggiran. Banyak dari kita selalu ingin berada di tengah, pusat kekuasaan, pusat informasi, pusat keputusan, pusat ekonomi. Semua sering ingin berada di pusat,” tutur dr. Christian.

Ia mengingatkan pentingnya memastikan bahwa arah kebijakan dan pembangunan di Kota Kupang senantiasa memprioritaskan masyarakat lapisan terbawah.

“Apakah kita sudah melihat Kota Kupang mulai dari pinggir? Banyak dari mereka yang mungkin tidak terlihat selama ini harus bisa kita lihat. Banyak yang suaranya pelan, tidak terdengar, harus kita dengar mulai dari pinggir,” tegas Wali Kota Kupang.