Wali Kota mengapresiasi tiga dekade dedikasi Romo Leo yang dinilainya telah menyentuh banyak kehidupan masyarakat. 

Sebagai bentuk tindak lanjut konkret, Pemkot Kupang berencana menggandeng Romo Leo dalam merancang silabus pembinaan karakter dan pendidikan bagi ASN Katolik di lingkup Pemerintah Kota Kupang.

Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan bahwa konsep “pinggiran” mewakili realitas kemiskinan, penderitaan, serta ketidakadilan yang membutuhkan kehadiran nyata semua pihak.

“Gereja harus berani hadir di jalanan dan di pinggiran, bukan menjadi Gereja yang aman dan megah tetapi mengisolasi diri,” papar Melki.

Ketua Panitia, Hendrikus Ara, menambahkan bahwa peringatan 30 tahun imamat ini diisi dengan beragam aksi sosial nyata, seperti pembukaan kebun seminari, bakti lingkungan, kegiatan bersama pemulung, donor darah, hingga pengobatan gratis. 

Buku yang diluncurkan tersebut merangkum rekam jejak perjalanan Romo Leo dari Buraen, Amarasi, hingga ke Vatikan dan kembali mengabdi di Kota Kupang. (agn)