Salah satu pelaku UMKM, Misel, mengaku merasakan langsung dampak positif kebijakan tersebut.

“Puji Tuhan, saya bisa jualan dimsum keju di lokasi strategis. Kebijakan Pemkot sangat membantu kami. Selain berdagang, kami juga bisa merasakan kemeriahan Pawai Paskah bersama warga,” katanya.

Antusiasme juga datang dari masyarakat umum. Maria (30), warga yang hadir bersama keluarganya, menilai festival ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan pesta rakyat yang inklusif.

“Pawai tahun ini sangat ramai. Kita bisa menikmati suasana sambil mendukung UMKM lokal. Penataannya juga rapi, jadi kami merasa aman dan nyaman,” ujarnya.

Festival Paskah Pemuda GMIT ini menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan dapat bertransformasi menjadi penggerak ekonomi sekaligus mempererat persaudaraan lintas iman.

Di bawah pengelolaan Pemerintah Kota Kupang, semangat toleransi dan kebersamaan terus dirawat, menjadikan kota ini sebagai “Nusa Terindah Toleransi”.
“Soda molek neu kita basa” — salam sejahtera untuk kita semua. (agn/ab)