“Kita mengakui bahwa kita salah, dan karena itu kita bertekad memperbaiki diri ke depan. Mari jadikan tragedi ini sebagai alarm kemanusiaan agar tidak ada lagi anak di NTT yang putus asa karena kemiskinan,” tutup Gubernur.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Dalam Negeri, Hoiruddin Hasibuan, mengatakan kehadirannya di NTT merupakan penugasan khusus dari Menteri Dalam Negeri untuk mendalami kasus YBR serta menyiapkan rekomendasi bagi pemerintah pusat.

“Ini bukan soal siapa yang salah, tetapi bagaimana ke depan kita memperbaiki sistem. Kasus di Ngada adalah tamparan bagi kita semua untuk berbenah,” kata Hasibuan.

Ia menekankan pentingnya pendataan warga miskin secara rinci by name by address, fleksibilitas pendanaan bantuan sosial, serta kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi kondisi darurat sosial.

Hasibuan juga menyampaikan belasungkawa dari Menteri Dalam Negeri dan menegaskan bahwa tragedi tersebut berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan ekstrem.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, turut menegaskan peran penting aparat di tingkat bawah dalam memastikan program penanggulangan kemiskinan tepat sasaran.