Beberapa peristiwa simbolik turut dikenang, di antaranya pemberian karpet kepada Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1995 di Ciganjur, yang kala itu disampaikan sebagai hadiah sederhana seorang musafir. Ia juga pernah melayani keluarga Presiden BJ Habibie, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Presiden Joko Widodo, dengan doa dan simbol permadani yang diyakini membawa makna harapan dan tanggung jawab kepemimpinan.

Haji Malik dikenal sebagai sosok yang menjaga jarak dari politik praktis. Saat kembali ke Kupang beberapa waktu lalu, ia memilih berdoa secara pribadi tanpa menghadiri agenda politik apa pun, meski diminta hadir dalam kegiatan deklarasi tokoh politik daerah. Sikap tersebut menegaskan prinsipnya untuk tetap berada di jalur spiritual dan kemanusiaan.
Hingga kini, silaturahmi Haji Malik dengan keluarga Usman Siddin dan masyarakat Kupang tetap terjaga. Warga setempat mengenang kehadirannya sebagai bagian dari sejarah spiritual kota, yang membawa keteduhan, solidaritas sosial, dan nilai-nilai keikhlasan.