Sebelum Kurikulum Merdeka direvisi, setiap sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) wajib melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Proyek ini mengandung sesuatu yang kontekstual, melibatkan lintas didiplin ilmu dan relevan terhadap masyarakat, seperti permasalahan lingkungan, pendidikan, dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. 

Beberapa tema P5 yang ditawarkan untuk dikembangkan sekolah, misalnya: gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, berekayasa dan berteknologi, kewirausahaan, dan kebekerjaan. Para guru dan murid wajib merancang proyek untuk menghasilkan aneka karya yang bisa dipamerkan sesuai tema yang dipilih dalam acara panen hasil belajar. Namun setelah acara usai, proyek pun terhenti karena harus berganti tema di semester berikut.

Saat ini P5 tidak hilang tapi dikembangkan melalui program kokurikuler sekolah. Ruang untuk murid berkarya tetap dibuka dan kehadiran OSOP sesungguhnya lebih menguatkan program P5 agar tidak sebatas proyek sesaat atau sekadar menuntaskan tuntutan kurikulum. OSOP memfasilitasi karya murid hingga terkoneksi dengan dunia usaha dan dunia industri. Melalui pembelajaran berbasis projek yang berkelanjutan, murid dilatih ikut mengembangkan: potensi diri, pemberdayaan diri, peningkatan diri, pemahaman diri, dan peran sosial.