Hal serupa juga disampaikan Agustinus Bulu Kalli, warga RT 14 Kelurahan Manutapen. Seluruh atap rumahnya diterbangkan angin kencang, memaksanya bersama keluarga tidur tanpa pelindung. Ia mengaku peristiwa tersebut membangkitkan kembali trauma bencana Seroja yang pernah melanda NTT.
“Saya kaget sekali, atap rumah terlepas semua. Anginnya sangat menakutkan. Kami enam orang di dalam rumah hanya bisa menangis. Kejadiannya tidak lama, tapi saya pikir ini Seroja kedua. Setelah pagi baru saya tahu tidak terlalu banyak rumah yang kena,” kisah Agustinus.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Kupang atas kepedulian dan bantuan yang diberikan. “Terima kasih bapak Wali. Bantuan ini sangat membantu kami yang sedang susah. Kami doakan bapak Wali tetap sehat dan kuat melayani warga Kota Kupang,” tuturnya.
Kehadiran pemerintah di tengah warga yang terdampak bencana menjadi bukti nyata bahwa empati dan kecepatan respons adalah bagian penting dari pelayanan publik, terutama di saat warga sedang membutuhkan uluran tangan dan penguatan. (jrg/ab)



Tinggalkan Balasan