Menurut Ronald, teman-temannya yang menjalani usaha rental mobil juga ikut kebagian berkat selama event ini berlangsung. “Selama ini kan orderan sepi. Kadang dapat kadang tidak. Tapi pas Tour itu kemarin mereka senang bisa dapat pemasukan yang lumayan lah,” terangnya.
Cerita serupa juga diungkapkan Wilfrida, perajin tenun asal Ende. Di event Tour De EnTeTe ini kemarin, ia dan teman-temannya mendapat bagian untuk mendirikan stand UMKM di Lapangan Pancasila Ende. Dirinya mengaku senang karena beberapa souvernir yang dijual dibeli langsung oleh para pembalap dan juga tamu undangan lainnya.
Ya, cerita tentang Tour De EnTeTe memang menarik untuk disimak. Tidak semata soal siapa yang naik podium juara di masing-masing etape, tapi juga ada begitu banyak pelaku usaha dan masyarakat luas yang juga ikut kebagian berkat selama event ini berlangsung.
Hal menarik lainnya dari ajang balap sepeda bertaraf internasional ini adalah soal kepedulian pada kemanusiaan. Di etape Ketujuh yang digelar di Kota Ende pada Kamis, (18/9/2025) lalu meninggalkan kisah tersendiri soal kemanusiaan. Semua hadiah yang didapatkan para pembalap di etape ini didonasikan khusus buat para korban bencana alam di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.



Tinggalkan Balasan