Kasus Rudapaksa Anak di Bawah Umur Terjadi Lagi di Lembata, Kali Ini Pelakunya Pacar dan Sepupu Korban

Ilustrasi pencabulan. (Foto: Pixabay)

Lewoleba, KN – Kasus rudapaksa anak di bawah umur di Kabupaten Lembata terjadi lagi. Kali ini, korbannya adalah siswi SMA di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial MOB. Gadis 16 tahun itu dirudapksa pacar dan sepupunya.

Kejadian itu berawal saat pacar korban berinisial, AFL (21) alias Ades mengajak korban ke pesta. Setelah berpesta, Ades mengajak pacarnya ke kamar rumahnya. Saat itulah, ia memaksa MOB berhubungan badan.

Setelah melampiaskan nafsunya, ia berniat mengantar pulang pacarnya itu. Namun, MOB takut pulang ke rumahnya karena sudah larut malam.

Ades kemudian menelepon sepupunya berinisial RHS alias Cale untuk meminta kekasihnya itu bisa nginap semalam di rumahnya.

Hal itu pun disetujui Cale. Ades kemudian mengantar kekasihnya itu ke kamar Cale.
Namun, sekitar pukul 04.00 wita, korban malah disetubuhi Cale secara paksa.

“Keesokannya korban menceritakan kejadian itu ke orang tuanya dan melaporkan kasus itu polisi,” ungkap Kasat Reskrim Polres Lembata, AKP I Wayan Pasek Sujana, Rabu (24/1/2024).

BACA JUGA:  Maju Jadi Calon Bupati Lembata, Ini Visi Misi Politisi Demokrat Gabriel Suku Kotan

Mengetahui korban melaporkan perbuatan mereka ke polisi, dua pelaku ini melarikan diri dan bersembunyi di pulau Solor, Kabupaten Flores Timur.

Setelah melakukan pengejaran, kedua pelaku akhirnya berhasil ditangkap pada Rabu 24 Januari 2024 sekitar pukul 11.00 wita.

“Dua pelaku kita tangkap di rumahnya di wilayah Kota Baru dan Lamahora,” katanya.

Kedua pelaku dijerat pasal persetubuhan dan percabulan anak pasal 81 ayat 1 atau pasal 81 ayat 2 atau pasal 82 ayat 1 UU RI no 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang undang 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang Jo pasal 76 D atau pasal 76 E undang undang RI no 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
Dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun atau denda Rp1 miliyar. (*/kn)