Didukung Bunda Julie, Mahasiswa IPMI Sukses Memukau Pangeran Edward di Acara Charity Dinner DoE 2023

Penari Ge Mu Fa Mi Re di acara Charity Dinner DoE 2023. (Foto: Istimewa)

Kupang, KN – Mahasiswa IPMI International Bussines School berhasil menggetarkan panggung Charity Dinner The Duke of Ediburgh Award saat membawakan tarian dengan lagu Ge Mu Fa Mi Re.

Tarian dengan lagu Ge Mu Fa Mi Re asal Maumere NTT ini, sukses menghipnotis peserta acara megah yang dihadiri langsung oleh Prince Edward sebagai The Duke of Ediburgh Keluarga Kerajaan Inggris itu.

Selain membawakan lagu daerah, mahasiswa IPMI International Bussiness School juga mengenakan kostum pakaian adat Rote Ndao. Penggunaan pakaian adat ini difasilitasi langsung oleh anggota DPR RI Komisi IV Fraksi Partai NasDem Julie Sutrisno Laiskodat melalui Butik Levico.

Award Leader Maria Yohana Meo mengatakan, The Duke Ediburgh Award adalah kegiatan yang dicetuskan oleh Pangeran Philip pada tahun 1956.

Ia menyebut, penghargaan ini membantu kaum muda membangun kepercayaan diri mereka dan mengembangkan keterampilan hidup yang penting untuk mencapai potensi penuh mereka.

Saat ini, hampir setengah juta anak muda secara aktif mengikuti DoE di Inggris dan Penghargaan Internasional The Duke of Edinburgh digelar di lebih dari 130 negara, termasuk Indonesia.

“Di Indonesia, program ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1993 dan telah diikuti lebih dari 10.000 anak muda Indonesia melalui beberapa sekolah dan Non Governmnet Organization (NGO),” jelas Yani kepada wartawan, Rabu 29 November 2023.

Menurutnya, program penghargaan International ini cukup diminati oleh anak-anak muda global usial 14-24 tahun, karena memberikan manfaat pendidikan dan pengalaman di luar kelas formal serta mendapatkan sertifikat langsung dari DoE Foundation di United Kingdom.

BACA JUGA:  Runner Up 2 Miss Indonesia Diduga Tipu Warga NTT Rp621,5 Juta, Korban Layangkan Somasi

“Penghargaan yang diakui secara international ini disebut-sebut sebagai tiket masuk calon mahasiswa ke universitas-universitas terkemuka di dunia dan mampu memberikan nilai plus bagi para pencari kerja di perusahaan internasional,” ungkapnya.

Karena itu, lewat acara yang megah tersebut, pihaknya ingin memperkenalkan adat dan budaya masyarakat NTT kepada tamu dari Kerajaan Inggris.

“Menurut saya, kita lebih banyak menampilkan budaya. Jadi di situ ada budaya Maumere dan Rote juga masuk. At least, ada beberapa ragam budaya dari NTT kami perkenalkan lewat lagu dan tarian Ge Mu Fa Mi Re dan kostum adat Rote Ndao,” pintanya.

Yani mengatakan, saat mereka mementaskan tarian dengan lagu Ge Mu Fa Mi Re dengan menggunakan kostum adat Rote Ndao, peserta kegiatan langsung serentak berdiri dan bergoyang bersama.

“Serentak tiba-tiba semua audiens yang duduk di meja undangan langsung bergerak maju ke panggung dan ikut kita menari bersama. Bahkan prince pun yang tadinya hanya duduk dan menikmati, juga ikut maju dan menari bersama,” ungkap Yani.

Selain mengguncang panggung dengan tarian dan lagu Ge Mu Fa Mi Re, kostum pakaian adat Rote yang ditampilkan juga mendapat pujian dari banyak orang.

“Di situ kan bule banyak. Jadi mereka mengapresiasi dan memberikan pujian-pujian mulai dari topi sampai pada kostum adat. Hampir keseluruhan elemen tarian yang kita bawakan sangat dinikmati dan prience juga ikut menari.

“Ini suatu kebanggaan bagi kita. Karena tidak sembarang orang bisa bertemu prince dan kita berhasil tampilkan adat dan budaya kita kepada para tamu undangan,” tandasnya. (*)

error: Content is protected !!