Berbalut Busana Adat, Pj Bupati Lembata Buka Festival Leva Alep di Lamalera

Ketika tiba di Lamalera, Penjabat Bupati disambut meriah dengan tarian adat oleh generasi muda yang adalah penerus budaya Leva Alep di Desa Lamalera.

Pj Bupati Lembata Marsianus Jawa buka Festival LEVA ALEP di Lamalera. (Foto: Youtube Kominfo Lembata)

Lewoleba, KN – Penjabat Bupati Kabupaten Lembata, Marsianus Jawa secara resmi membuka festival Leva Alep di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Rabu 15 Februari 2023.

Ketika tiba di Lamalera, Penjabat Bupati disambut meriah dengan tarian adat oleh generasi muda yang adalah penerus budaya Leva Alep di Desa Lamalera.

Mereka mengatraksikan budaya Lamalera dengan teriakan Baleo, yang merupakan seruan atau ajakan orang Lamalera ketika hendak pergi menangkap Ikan Paus.

Berbalut busana adat Lamalera, Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa mengatakan festival merupakan kegiatan besar atau pesta raya untuk memperingati peristiwa yang pernah terjadi.

Menurut Marsianus Jawa, festival Leva Alep jangan hanya sekedar dorong peledang lalau pergi menangkap ikan paus. Tetapi harus ada konsep yang harus ditonjolkan.

“Kalau mau berbicara tentang Lamalera, harus ada konsep yang mau kita tonjolkan, atau diangkat kembali. Tidak sekedar dorong perahu dan tombak ikan,” ujar Marsianus Jawa.

BACA JUGA:  Gubernur dan Wagub NTT Melayat Jenazah Bupati Lembata di RS Siloam Kupang

Dia menjelaskan, even akbar festival Leva Alep merupakan ajang untuk menarik wisatawan atau turis sebanyak banyaknya untuk datang ke Lamalera.

“Festival ini kita ingin menarik turis untuk hadir di Lamalera. Kalau di Labuan Bajo orang bilang satu satunya komodo, maka di Lamalera adalah satu satunya daerah yang bisa menikam ikan paus,” jelas Marsianus Jawa.

Dia berharap kepada para penenun sarung adat (nowing) di Desa Lamalera untuk lebih menonjolkan corak atau motif ikan paus dan peledang dalam tenunanya.

“Harus dibuat dengan motif yang lebih manis untuk tonjolkan Lamalera. Harus didesain juga dalam satu lembaran besar, sehingga bisa dimodif aneka busana lain seperti jas dan lainnya,” ungkapnya.

“Karena orang diluar pasti tidak suka pakai sarung. Jadi hari ini orang Lamalera harus sudah mulai berpikir ke arah sana,” tandasnya. (*)