Bayi di Manggarai Lahir Tanpa Lubang Anus Butuh Biaya Operasi

Kondisi itu baru diketahui kedua orang tuanya, setelah dua hari Fransisco dilahirkan ibunya.

Bayi Fransisco di Manggarai Lahir Tanpa Lubang Anus yang Butuh Biaya Operasi (Foto: Yhono Hande)

Ruteng, KN – Seorang bayi di Kampung Ulungali, Desa Pongkor, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, NTT, lahir tanpa lubang anus. Ia membutuhkan uluran tangan para dermawan untuk biaya operasi.

Fransisco Jehatu, yang baru berusia 4 bulan ini lahir tanpa lubang anus. Kondisi itu baru diketahui kedua orang tuanya, setelah dua hari Fransisco dilahirkan ibunya.

Bayi malang pasangan Magdalena Lanut (31) dan Paskalis Sius Bongkok (34) ini hingga kini belum juga menjalani operasi kolostomi atau pembuatan lubang anus, karena tidak memiliki biaya.

Kondisi Fransisco memprihatinkan. Ayahnya hanya seorang guru honorer di SDI Ulungali dengan gaji Rp500 ribu yang diterima selama triwulan, tentu hanya bisa mencukupi kehidupan keluarga.

Sementara Magdalena yang merupakan ibunda Fransisco hanyalah seorang petani biasa, yang tentunya tidak memiliki cukup uang untuk membiayai pengobatan anaknya.

Ayah Fransisco, Paskalis Sius Bongkok, mengisahkan, Fransisco, yang adalah anak bungsunya itu lahir di Pustu Ulungali pada jam 04 pagi dalam keadaan sehat, namun tidak memiliki lubang anus.

“Setelah dari Pustu Ulungali, dua hari kemudian saya cek kondisinya, ternyata tidak ada lubang anus,” ungkap Paskalis kepada wartawan, Rabu 16 November 2022.

Melihat kondisi anaknya, Paskalis langsung memutuskan untuk membawa Fransisco ke Puskesmas Ponggeok untuk mendapatkan perawatan secara medis.

“Di Puskesmas di tangan oleh dokter, namun waktu itu dokter sarankan agar Fransisco di rujuk ke RSUD Ben Mboi Ruteng,” jelasnya.

Mereka kemudian merujuk Fransisco ke RSUD Ben Mboi Ruteng untuk dilakukan operasi pembuatan saluran pembuangan kotoran sementara. Disana ia dirawat selama 12 hari.

“Kemudian ia dioperasi pada perut bagian kiri. Dokter juga menyarankan untuk operasi membuat lubang anus dan sambung usus di Bali,” terangnya.

BACA JUGA:  Jelang Dies Natalis ke-39, UNWIRA Kupang Bagi-bagi Sembako untuk Mahasiswa

Mendengar rekomendasi dokter, Paskalis dan isterinya merasa cemas, lemas dan tidak tidak bergairah, karena tidak memiliki kecukupan biaya.

“Gaji saya tidak cukup dengan biaya yang begitu banyak. Kebutuhan sehari-hari selama ini saja juga masih belum pas,” ucap Paskalis sambil menyeka air matanya.

Karena keterbatasan biaya, anaknya Fransisco hingga kini masih menggunakan kantong kolostomi yang disarankan oleh dokter selama dua bulan terakhir.

“Selama ini dia pakai kantong dan pampers yang di sarankan oleh dokter, sementara harganya  Rp80 – 90 ribu per kantong. jadi total pengeluaran biaya selama ini sekitar belasan juta. Uang ini merupakan tabungan kami dan hasil jual sapi dan babi, Namun saat ini kami sudah tidak punya apa,-apa,” katanya.

Ia menjelaskan, sekarang Fransisco menggunakan kantong yang dibuat sendiri, karena tidak lagi memiliki biaya untuk membeli kantong dan pampers.

Paskalis menambahkan, kini mereka hanya pasrah dan berserah kepada Tuhan. Mereka hanya bisa berdoa, semoga ada orang baik diluar sana yang berbaik hati untuk meringankan beban dari penyakit yang diderita putranya.

“Sementara belum ada yang membantu pak, sempat ada yang mendatangi namun hingga kini belum ada realisasi, harapannya semoga pemerintah dan siapapun  biasa membantu untuk membiayai operasi yang dialami anak kami ini,” harap Paskalis

Bagi saudara dan saudari yang ingin membantu meringankan beban dari keluarga Paskalis, bisa menghubungi nomor keluarga 081257384440 dan jurnalis Koran NTT 081245845934.

Jika ingin melakukan donasi langsung bisa salurkan melalui rekening pribadi ayahnda Fransisco dengan No rekening Bank BRI: 473001055586539 atas nama Paskalis Sius Bongkok. (*)