Kupang, KN – Warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi pekerja sawit di Kalimantan Timur sering mendapat perlakuan yang kurang baik hingga berujung kematian.
Sebagian besar warga yang meninggal dunia disebabkan oleh kurangnya jaminan kesehatan yang diberikan oleh perusahan tempat di mana mereka bekerja.
Pengurus Ikatan Keluarga Nusa Tenggara Timur (Ikentim) Kutai Barat, Michel Tob mengatakan, dalam lima bulan terakhir sudah sekitar lebih dari 20 warga NTT yang meninggal di Kalimantan Timur.
“Terakhir satu warga NTT yang bekerja di grup Borneo juga dikirim pulang dalam keadaan meninggal dunia. Mayoritas orang NTT yang meninggal di Kaltim adalah pekerja sawit,” kata Michel Tob kepada Koranntt.com pekan silam.
Menurutnya, setelah meninggal dunia ada jenazah yang sempat dipulangkan ke kampung halaman, namun ada juga yang tidak dipulangkan karena alasan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.
“Kami meminta pemerintah Provinsi NTT bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Kaltim, khususnya Pemkab Kutai Barat untuk memastikan nasib para pekerja asal NTT, sehingga mereka bisa mendapatkan hak-haknya termasuk hak mendapat kesehatan dan upah yang layak,” tegas Michel Tob.
Dia menjelaskan, orang NTT yang berstatus karyawan tetap di perusahan, biasanya saat meninggal dunia pasti mendapatkan pesangon tetapi jumlah mereka sangat sedikit.
“Paling banyak itu pekerja harian lepas. Bahkan uang duka dari BPJS juga tidak ada. Jadi perusahan-perusahan yang ada di Kutai Barat ini kan kapitalis atau raksasa yang punya duit jadi kami merasa sulit. Kadang gaji pekerja juga tidak dibayar sesuai UMR,” ucapnya.
Perusahaan sawit juga sering menggunakan jasa pasus atau pasukan khusus yang mengintimidasi para pekerja sawit dari NTT.
“Mereka ini pecatan tentara yang dipakai untuk mengintimidasi para pekerja sawit. Pernah kami bawa ke media, mereka akhirnya minta maaf. Kalau anak-anak bermasalah, mereka intimidasi dan aniaya. Setelah itu mereka paksa anak-anak buat surat pengunduran diri dan dipecat,” tutur Michel Tob.







Tinggalkan Balasan