Daerah  

Gubernur NTT: Biasa yang Makan Barang Bencana, Tempatnya di Neraka

Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat meninjau warga terdampak bencana Badai Seroja di Kota Kupang beberapa waktu silam / Foto: Dok. BAP Prov. NTT

Kupang, KN – Gubernur NTT, Viktor Laiskodat mengingatkan agar semua bantuan untuk masyarakat NTT yang terdampak badai siklon tropis seroja, tidak disalahgunakan.

Mantan ketua fraksi Partai Nasdem DPR RI itu menegaskan, jika ada oknum yang menyalahgunakan bantuan bencana, maka di akhirat nanti, tempatnya di neraka.

“Saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga dana ini tidak disalahgunakan. Karena yang biasa makan barang bencana itu tempatnya neraka punya dalam,” ujar Gubernur Viktor Laiskodat usai menerima donasi dari Bank NTT, Senin 26 April 2021.

Pemerintah Provinsi NTT akan meminta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, untuk melakukan audit terhadap semua sumbangan tunai yang masuk, sehingga tidak disalahgunakan.

“Tentunya seluruh penerimaan bantuan, saya akan minta BPKP untuk melakukan audit agar tidak ada penyalagunaan bantuan bencana ini,” ucap Gubernur Laiskodat.

Dia juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi, kepedulian, dan kerja kemanusiaan dari seluruh industri keuangan, karena telah menyumbangkan bantuan untuk masyarakat terdampak badai seroja.

Menurut Gubernur VBL, masyarakat Nusa Tenggara Timur memiliki daya tahan yang sangat luar biasa dalam menghadai bencana badai seroja.

BACA JUGA:  Fransiskus Koyu Terpilih Jadi Ketua Peradi Ruteng Periode 2022-2027

“Hal yang paling saya rasakan dalam bencana bahwa masyarakat NTT sangat luar biasa. Karena semangat untuk saling membagi dan membantu itu menunjukan kuatnya fondasi persaudaraan di NTT,” katanya.

Sebelumnya, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Isyak Nuka menyampaikan, jumlah bantuan tunai yang masuk ke rekening posko bencana badai seroja Pemprov NTT mencapai Rp4 Miliar.

Bantuan tunai tersebut belum digunakan, karena harus disalurkan melalui mekanisme penyaluran yang benar.

“Bantuan tunai yang masuk sudah Rp4 Miliar lebih, dan sama sekali belum digunakan, karena harus melalui mekanisme penyaluran yang benar, sehingga tidak salah digunakan,” jelas Isyak Nuka kepada wartawan.

Pihaknya juga meminta bantuan Inspektorat untuk melakukan pendampingan, agar dalam proses penyaluran pihaknya dapat melakukan tugasnya sesuai tupoksi.

“Kita minta inspektorat untuk dampingi kita, sehingga jangan sampai kita terlalu melenceng jauh. Jadi saya minta inspektorat untuk sama-sama berdampingan,” ucapnya.*