Opini  

Jangan Salah Menilai Kedatangan Presiden Jokowi di Nian Sikka

Yohanes A. Loni

Penulis : Odan Loni
Mahasiswa Awam STFK Ledalero SemesterVIII
Anggota PMKRI Cab.Maumere
Ketua Ikatan Mahasiswa Manggarai-Maumere (IMAMM)

Dengan segala rasa hormat dan bangga akan kerinduan masyarakat Kabupaten Sikka lebih besar dari pada ketakutan akan covid. Bentuk kecintaan yang tulus untuk presiden Jokowi datang ke NTT untuk meresmikan bendungan Napun Gete-Maumere.
 
Sebagai orang NTT merasa terharu dan bangga kehadiran presiden Jokowi di Kabupaten Sikka. Saya tak habis pikir mengapa sebagian para aktor politik mencari kesalahan untuk menjatuhkan bapak Jokowi yang katanya melanggar protokol kesehatan.
 
Kerumunan yang terjadi bukan pasca merebaknya kunjungan kerja Jokowi dengan agenda peresmian bendungan Napun Gete pada selasa 23 Februari 2021. Saat itu Tidak ada yang mobili masa, semua itu reaksi warga Sikka, saking rindu dan cintanya kepada Bapak Presiden.

Harus bisa membedakan antara kerumunan yang dikarenakan undangan dan kerumunan yang situasional. Bahkan, presiden Jokowi tidak pernah mengundang masyarakat supaya datang dipinggir jalan, atau menyuruh mereka datang menyambutnya.
 
JOKOWI Bersama Masyarakat Sikka

Napun Gete. Bukan hadir karena ada agenda politik,. Bukan?
Jika melihat dalam video kehadiran presiden, reaksi spontan masyarakat walaupun selalu diingatkan namun masyarakat tidak peduli karena hanya ingin melihat langsung wajah presiden dan ingin menyapanya. Itu karena cintanya menyambut kedatangan Jokowi. Tanpa inters dan agenda politik. Tanpa rekayasa, mobilisasi nasi bungkus dan recehan uang transort.

Antusiasias masyarakat Kab. Sikka sungguh terharu dan bahkan ada yang menangis. Semua karena cinta dan sayang kepada pemimpin Indonesia. Kehadiran Presiden membuat masyarakat bangga karena selain meresmikan bendungan Napun Gete namun di sisi lain presiden Jokowi berada bersama masyarakat Kab. Sikka untuk menyapa rasa sayang dengan masyarakat Sikka sebagai tanda kekeluargaan dan keanekaragaman yang berbeda.
 
Sosok pemimpin yang menampilkan dirinya secara terbuka sepanjang jalan sembari mengingatkan warga agar menggunakan masker dan menjaga jarak. Itu semua karena presiden sayang dengan masyarakat Sikka.
 
Ditambah lagi Rakyat NTT sekarang ini butuh pemimpin yang jago politik anggaran, produktif dan konkret sehingga menghasilakan percepatan pembangunan infrastruktur, penanganan pandemi Covid-19, bantuan peningkatan kualitas pertanian dan peternakan serta perikanan. Cukup sudah membuli hanya mencari sensasi untuk menyalahkan bapa Presiden Jokowi.
 
Jokowi tidak salah yang salah masyarakat yang hadir saat itu sudah sejak dua kali menunggu kehadiran RI. Namun pada saat bapak presiden hadir di Kab. Sikka masyarakat sudah tidak bisa lagi berdiam di rumah. Ini karena masyarakat tahu bahwa presiden no 1 “Orang Hebat” sudah hadir menampilkan secara nyata dengan penampilan yang sederhana layaknya seperti masyarakat biasa.
 
Oh iya saya bahkan sempat berdiskusi dengan beberapa teman yang mendukung presiden Jokowi, agar mencari celah pembenaran sehingga kerumulan itu dapat dibenarkan.

BACA JUGA:  Dilematika Pembangunan Kesehatan dan Ekonomi

Namun kami sampai pada kesimpulan yang sama. Kesimpulan yang memang harus jujur disampaikan kepada publik bahwa Jokowi memang melanggar protokol kesehatan. Galau rasanya jika pemimpin melanggar protokol kesehatan.
 
Memang ironi jika melihat kembali ke belakang di mana Jokowi menegaskan secara berulang-ulang bahkan dengan menggunakan kode tangannya untuk memakai masker dan membubarkan kerumunan masaa. Faktanya, dalam video yang beredar tersebut, aparat keamanan malah tidak bisa berbuat apa-apa selain mejaga presiden agar masyarakat tidak bersalim tangan secara langsung dengan bapak presiden.
 
Apalah daya kejadian itu sudahlah berlalu dan menjadi perbincangan hangat di media sosial bahkan di berbagai media yang ada di Indonesia. Andaikan saja situasi kunjungan Jokowi di Kab. Sikka pada saat dunia baik-baik saja. Saya tidak bisa habis berpikir mungkin msyarakat Kab. Sikka untuk tinggal di NTT. Bisa jadi mengapa tidak?
 
Sayangnya situasi kedatangan Jokowi pada saat Pandemi Covid-19. Bahkan terjadi pada saat angka infeksi Covid-19 di NTT mengalami kenaikan pada beberapa minggu terahkir hingga mencapai angka 70, 58%. Angka ini, masih dimungkinkan mengingat jumlah pasien terpapar covid-19 meningkat hingga 8.586 kasus. Kasus Ini belum terhitung jumlah pada saat selesai kunjungan presiden Jokowi.

Baca selanjutnya
Masyarakat dan Ormas Itu Baik